Monday, April 09, 2007
we are not saint nor devil
Why do people keep on doing stupid thing? They blame on circumstances for all that happen. As it is destined for them to doom. It is really sad to see how we end up in a trap that we can't escape. I hate to find out someone that I loved and cherished get stucked with drugs and booze. They say it more of escapism. I would like to tell them that it is more of killing yourself in slower way. There should be a better way to escape. A path that can let you see the other side of picture. It's not worth it in damaging yourself. Problem will just kept on coming. You can never beat sadness and frustration like that. I hear all the time that time will heal. It trully does. But at the same time, don't let the healing process delayed. Be Brave and get out from it. Get On with Life. Seek out New Interest. Seek out new Challenge. And most importantly, Cherish your Life. Don't be selfish cause there are others that loves you too beside yourself.
Thursday, April 05, 2007
Dreaming With A Broken Heart

When you're dreaming with a broken heart
The waking up is the hardest part
You roll outta bed and down on your knees
And for the moment you can hardly breathe
Wondering was she really here?
Is she standing in my room?
No she's not, 'cause she's gone, gone, gone, gone, gone....
When you're dreaming with a broken heart
The giving up is the hardest part
She takes you in with your crying eyes
Then all at once you have to say goodbye
Wondering could you stay my love?
Will you wake up by my side?
No she can't, 'cause she's gone, gone, gone, gone, gone....
Oooooooooohhhhhhhhh
Now do i have to fall asleep with roses in my hand
Do i have to fall asleep with roses in my hand?
Do i have to fall asleep with roses in my hand?
Do i have to fall asleep with roses in my hand?
Baby won't you get them if i did?
No you won't, 'cause you're gone, gone, gone, gone, gone....
When you're dreaming with a broken heart
The waking up is the hardest part
* this John Mayer song really hit me hard. Sometimes I do wish I don't have to wake up from a beautiful dream. I want to stay in that dream
Sunday, April 01, 2007
story of the night

Why suddenly it become so hard to put this thought in writing? I've been typing for almost an hour but still nothing comes out. If I'm concern about what people will be saying, i don't see anyone reading it. I'm also very sure that nobody gives a damned about it. So why is it very hard.
Maybe because this thing that i'm writing down over here concern very much about what's inside my heart. The sentimental thing that every proud ego man most oftenly avoid it. Talking about love. Yuppp, that's the thing.
You see, my case is similar with everything that you watch in movies or read in a book. Boy meets Girl. Boy fall in love with the Girl. Suddenly, they're in neverland. But then, something bad happen, more of an earthquake or tsunami if I can methaphore it. Things start falling down, and what supposed to be a happy story turn out to a sad ending. Both Boy and Girl become heart broken and their path is no longer together.
I summarized everything in a five line paragraph. Surely it's not enough but i guess you got the picture. The thing that i've been through is like a common thing for every one. I guess everybody have their own version of the story but the plot is still the same. I guess.
So how's life after a relationship. It's kinda hard to explain it. From my perspective, I see it as I'm living a full and an empty life both at the same time. I'm living a life that demands commitment from it (job, family, friend) but surely from time to time, I feel really lonely.
Everytime my mind was brought to the memories of the bad moment (in the relationship), i can't escape the fact that I do have good moment. It's like being in heaven and hell both at the same time. Still i see her more of an angel. Someone that I can hold on tight to get through a cold and shivering night. A year has gone by. But here I am, typing out melancholy of my past love. Surely miss her a lot. And that explain why I'm here typing something in my blog.
Well, I've said it. Now it's time to go home and sleep. Tomorow i still got a work to do. Living a life that i felt full and empty both at the same time. Good night for now.... and GOD BLESS YOU TOO!
Maybe because this thing that i'm writing down over here concern very much about what's inside my heart. The sentimental thing that every proud ego man most oftenly avoid it. Talking about love. Yuppp, that's the thing.
You see, my case is similar with everything that you watch in movies or read in a book. Boy meets Girl. Boy fall in love with the Girl. Suddenly, they're in neverland. But then, something bad happen, more of an earthquake or tsunami if I can methaphore it. Things start falling down, and what supposed to be a happy story turn out to a sad ending. Both Boy and Girl become heart broken and their path is no longer together.
I summarized everything in a five line paragraph. Surely it's not enough but i guess you got the picture. The thing that i've been through is like a common thing for every one. I guess everybody have their own version of the story but the plot is still the same. I guess.
So how's life after a relationship. It's kinda hard to explain it. From my perspective, I see it as I'm living a full and an empty life both at the same time. I'm living a life that demands commitment from it (job, family, friend) but surely from time to time, I feel really lonely.
Everytime my mind was brought to the memories of the bad moment (in the relationship), i can't escape the fact that I do have good moment. It's like being in heaven and hell both at the same time. Still i see her more of an angel. Someone that I can hold on tight to get through a cold and shivering night. A year has gone by. But here I am, typing out melancholy of my past love. Surely miss her a lot. And that explain why I'm here typing something in my blog.
Well, I've said it. Now it's time to go home and sleep. Tomorow i still got a work to do. Living a life that i felt full and empty both at the same time. Good night for now.... and GOD BLESS YOU TOO!
*soundtrack - Al Green's cover of Bee Gees 'how can you mend a broken heart' on his 1972 album 'Let's Stay Together'
Monday, March 19, 2007
sedih dan gembira
sedih ada melawatku
dia menemaniku
sama-sama termenung
aku tolong menyalakan rokoknya
berdua dalam lewat gelap malam
tanpa lampu limpah
tanpa bunyi runut
tanpa penonton
teringat pula gembira
ada waktunya dia muncu
lnamun aku minta dia pulang
beri aku masa
aku perlu bersama sedih
banyak yang dia dapat beritahu
banyak yang aku perlu beritahu
buat tika ini
maafkan aku gembira
sampai kita ketemu lagi
di lain kali
dia menemaniku
sama-sama termenung
aku tolong menyalakan rokoknya
berdua dalam lewat gelap malam
tanpa lampu limpah
tanpa bunyi runut
tanpa penonton
teringat pula gembira
ada waktunya dia muncu
lnamun aku minta dia pulang
beri aku masa
aku perlu bersama sedih
banyak yang dia dapat beritahu
banyak yang aku perlu beritahu
buat tika ini
maafkan aku gembira
sampai kita ketemu lagi
di lain kali
Tuesday, March 13, 2007
air mata android
Pernah tak anda berjumpa dengan seorang android. Dia mungkin serupa dengan manusia lain. Dia dapat melakukan kerja-kerja yang semua manusia lakukan. Namun begitu, hanya ada satu perkara yang dia tidak ada. Dia tidak mempunyai perasaan.
Aku selalu rasa yang kalau syarikat terkemuka Honda nak buat android yang canggih, diaorang mungkin boleh ambik aku sebagai prototaip. Setiap hari aku melalui ruang hidup dengan tiada perasaan yang dapat memperkatakannya. Muka tanpa perasaan yang seringkali mewakili kenaifan. Aku buat kerja seperti manusia lain juga. Sayangnya, jiwa aku sering hilang entah kemana.
Bagaimanapun, setelah penelitian dilakukan, aku tidak dapat mewakili watak android sepenuhnya. Badan besi dan cip itu rajin, aku sebaliknya pemalas. Lagi satu, aku sebenarnya punya perasaan. Cuma ia seringkali terpendam dan tidak dapat keluar.
Untuk menambahkan kebodohan hidup ini, aku (pada waktu-waktu tertentu) cuba untuk mengenang kembali semua kisah-kisah sedih hidup aku. Hasratnya adalah supaya aku dapat mengalirkan air mata yang seterusnya dapat menunjukkan aku ini manusia biasa. Seringkali perkara tersebut, aku cuba dan aku cuba, namun tidak pernah sekali ia berjaya.
Lebih teruk sebenarnya, dalam menghadapi situasi-situasi yang meremukkan pun aku tak dapat menzahirkan perasaan terpendam aku. Kebiasaannya aku terpaku dengan hatiku berbicara sendiri tidak tentu hala. Pernah satu masa dahulu, dengan hanya tamparan singgah di muka aku baru perasaan itu terbuka. Anehnya, aku pun tak suka keadaan itu kerana bila perasaan itu terbuka, ia agak sukar untuk ditutup kembali.
Lewat kebelakangan ini aku kembali dalam dunia kesedihan (jelas sekali ia menyatakan kenapa aku menulis dalam blog ini). Kesedihan aku tak dapat dibandingkan dengan penderitaan orang lain yang jauh lebih dasyhat. Aku tak nak ceritakan di sini tapi aku tahu ada lebih ramai orang di luar sana yang mengalami lebih sengsara. Cuma apa aku nak perkatakan adalah kesedihan yang aku alami sekarang ini adalah apa yang aku rasa dan apa yang aku lalui. Orang lain mungkin dapat mendengar dengan khusyuk kisah aku namun mereka mungkin tak dapat memahaminya kerana ia adalah apa yang aku lalui dalam hidup.
*nota kaki = 1) aku tidak dapat melahirkan air mata ketika kakak ketiga aku meninggal dunia, namun begitu, sehingga kini aku masih termimpikannya dalam tidurku, yang mana, dalam mimpi itu aku menyangka yang dia masih ada disamping aku dan keluarga aku.
Sunday, March 11, 2007
ngelat
Jangan beritahu orang, aku sebenarnya tengah mengelat dari kerja. Aku sepatutnya mendapatkan maklumat mengenai kematian bapa seorang YB di sini tapi entah mengapa aku sengal sangat, perkara macam tu pun aku tak dapat.
Sejak kebelakangan ini aku terasa macam berada dalam persimpangan karier aku. Benda ni memang aku tak pernah beritahu sesiapa. Mungkin ia disebabkan aku kehilangan inspirasi atau motivasi aku yang mundur.
Aku tidak tahu apa alasan yang patut diberikan kerana alasan tetap alasan. Orang tidak mahu tanya kenapa kau datang lewat atau kenapa kau tidak siapkan kerja yang diberikan. Mereka mahu melihat hasil. Sebarang alasan yang diberikan hanya bukti kelemahan.
Jadi inilah aku, dengan sebuah snow cap hijau menutup kepala aku yang botak, mengadap komputer ofis pada pukul 4.30 petang hari Ahad dan meluahkan segala permasalahan yang memeningkan kepala otak aku.
Hendak kata aku tak cukup rehat, cuti aku boleh dikatakan banyak. Sayangnya, cuti itu adalah cuti dengan aku terus terperuk dalam rumah. Hampir majoriti masa dihabiskan pada playstation aku beli tahun lalu. Sesekali aku membelek buku-buku di rak yang aku baru sahaja susun namun seleranya nak membacanya tidak ada.
APa nak jadi dengan aku??????????? ARGHHHHHHhhHHHhhhHHHhhhHHH!!!!!!!!!!!! kepada sesiapa yang tersesat dalam blog aku ni, minta maaf, tidak banyak pengetahuan yang dikongsi bersama, hanya masalah kebosanan hidup sahaja dimasukkan ke dalam.
Buat masa ini, setiap kali aku pulang ke rumah, aku biasanya akan memainkan cd album terbaru Yusuf Islam. A.K.A Cat Steven dalam kereta untuk menenangkan jiwa aku. Berhasil namun tidak lebih untuk sementara. Aku suka bait-bait liriknya. Dia menyentuh hal-hal hidup yang semua kita inginkan.
Ohhh... terlalu lama aku meninggal dunia blog ini sehingga aku lupa untuk mengucapkan selamat datang 2007. Sememangnya tahun terbaik untuk memulakan kembali projek-projek yang sudah berhabuk berdebu aku tinggalkan sebelum ini.
Aku ada terfikir untuk menulis sesuatu mengenai kehidupan di bandar raya metropolitan. Aku bakal namakannya sebagai 'KL Jam'. Kisah hidup anak muda di kota raya. Dalam melalui kehidupan yang penuh dengan kesombongan dan dara muda yang dahagakan kehidupan. Aku tidak melalui semua itu tapi aku akan cuba imaginasikannya.
Kemungkinan mengenai bagaimana kau sesuaikan kehidupan selepas melalui alam pendidikan. Masa untuk melihat dunia sebenar. Realiti kehidupan bekerja yang menuntut kau memberi untuk memperolehi. Sesak rasanya untuk melalui semua itu. Namun dalam waktu tertentu, watak-watak dalam cerita ini akan berhenti sebentar untuk meluahkan perasaan di studio jamming. Sebab itu aku namakannya 'KL Jam'. Soundtrack dalam citer ni mesti best punyo. Rancak sesuai dengan jiwa muda.
----draf awal citer-----
Sejak kebelakangan ini aku terasa macam berada dalam persimpangan karier aku. Benda ni memang aku tak pernah beritahu sesiapa. Mungkin ia disebabkan aku kehilangan inspirasi atau motivasi aku yang mundur.
Aku tidak tahu apa alasan yang patut diberikan kerana alasan tetap alasan. Orang tidak mahu tanya kenapa kau datang lewat atau kenapa kau tidak siapkan kerja yang diberikan. Mereka mahu melihat hasil. Sebarang alasan yang diberikan hanya bukti kelemahan.
Jadi inilah aku, dengan sebuah snow cap hijau menutup kepala aku yang botak, mengadap komputer ofis pada pukul 4.30 petang hari Ahad dan meluahkan segala permasalahan yang memeningkan kepala otak aku.
Hendak kata aku tak cukup rehat, cuti aku boleh dikatakan banyak. Sayangnya, cuti itu adalah cuti dengan aku terus terperuk dalam rumah. Hampir majoriti masa dihabiskan pada playstation aku beli tahun lalu. Sesekali aku membelek buku-buku di rak yang aku baru sahaja susun namun seleranya nak membacanya tidak ada.
APa nak jadi dengan aku??????????? ARGHHHHHHhhHHHhhhHHHhhhHHH!!!!!!!!!!!! kepada sesiapa yang tersesat dalam blog aku ni, minta maaf, tidak banyak pengetahuan yang dikongsi bersama, hanya masalah kebosanan hidup sahaja dimasukkan ke dalam.
Buat masa ini, setiap kali aku pulang ke rumah, aku biasanya akan memainkan cd album terbaru Yusuf Islam. A.K.A Cat Steven dalam kereta untuk menenangkan jiwa aku. Berhasil namun tidak lebih untuk sementara. Aku suka bait-bait liriknya. Dia menyentuh hal-hal hidup yang semua kita inginkan.
Ohhh... terlalu lama aku meninggal dunia blog ini sehingga aku lupa untuk mengucapkan selamat datang 2007. Sememangnya tahun terbaik untuk memulakan kembali projek-projek yang sudah berhabuk berdebu aku tinggalkan sebelum ini.
Aku ada terfikir untuk menulis sesuatu mengenai kehidupan di bandar raya metropolitan. Aku bakal namakannya sebagai 'KL Jam'. Kisah hidup anak muda di kota raya. Dalam melalui kehidupan yang penuh dengan kesombongan dan dara muda yang dahagakan kehidupan. Aku tidak melalui semua itu tapi aku akan cuba imaginasikannya.
Kemungkinan mengenai bagaimana kau sesuaikan kehidupan selepas melalui alam pendidikan. Masa untuk melihat dunia sebenar. Realiti kehidupan bekerja yang menuntut kau memberi untuk memperolehi. Sesak rasanya untuk melalui semua itu. Namun dalam waktu tertentu, watak-watak dalam cerita ini akan berhenti sebentar untuk meluahkan perasaan di studio jamming. Sebab itu aku namakannya 'KL Jam'. Soundtrack dalam citer ni mesti best punyo. Rancak sesuai dengan jiwa muda.
----draf awal citer-----
Thursday, November 09, 2006
This is 'Life' talking
Life doesn't work according to your desire. It have it's own way in deciding your destiny. You can keep on following the path that brings you good in life. But through it, there is a couple of turn that have disaster waiting for you. What i'm telling here is a fact that everyone knows. But mistakes keeps on happening and sometimes i just can't find the reason why. Is it to divide people into heaven and hell? Only Allah knows best. I keep on wandering this fact of life. There is time i'm jumping in joy. There is also moment that i shed my tears. Maybe there is a pattern in all this. And so, we can expect what is going to happen. We can learn about past and we can also figure out the future. But then, you just never know what's going to turn out. And so, maybe this is what life is all about, a journey that concludes everything in it. For you guys out there, good luck in your journey!!! You surelly need a lot of it.
Thursday, October 19, 2006
Selamat Hari Raya Semua
Assalamualaikum,
Hari Raya menjelma kembali. Semua warga kota yang mempunyai kampung halaman akan kembali pulang berpusu-pusu. Bagi warga kota yang mana bandaraya itu merupakan kampung mereka, ketenangan yang bakal dialami akan dinikmati sepenuhnya. Aku masih ada beberapa hari lagi sebelum aku kembali pulang ke kampung aku. Rasanya, semakin dewasa, semakin kurang rasanya kemeriahan Aidilfitri ini. Kemungkinan Hari Raya adalah perayaan untuk kanak-kanak. Mereka adalah golongan yang bergembira sekali di waktu itu. Dapat duit raya, lepas tu dapat 'pau' orang yang tidak dikenali untuk duit raya. Seterusnya jalan sekeliling kampung untuk pau lagi orang. Muka memang tebal gila tapi mungkin ini yang diperlukan bila mereka menjadi sales officer atau eksekutif pemasaran di masa hadapan. Pada perayaan ini juga, sanak saudara akan bertemu. Bila rumah tu dah penuh, meriah pula rasanya, nama pun budak-budak, dengan siapa-siapa pun berkawan, bukannya macam orang dewasa, dah ada terlalu banyak benda untuk difikirkan. Aku ada banyak juga kenangan di waktu raya, tapi benda yang paling aku rindu ialah menonton sarkis kat tv di pagi raya. Zaman sekarang mana ada lagi dah semua tu. Kalau buka jerr mesti ada rancangan artis-artis tengah nyanyi lagu-lagu raya, drama swasta dan filem-filem tempatan yang baru keluar wayang bulan lepas. Bagi kaum ibu, mereka akan tidak putus-putus memasak, nak bagi anak-anak mereka sihat gamaknya. Budak-budak bujang akan melepak ngan kawan-kawan mereka yang dah lama tak jumpa. Banyak perkara untuk disembangkan sebab dah terlalu lama tidak berjumpa. Aku rasa itu kot apa aku akan buat di hari raya ini. Cuba cari balik kawan-kawan. Saja nak sembang dengan semua balik.
Aku tak faham sangat konsep minta maaf di waktu hari raya ini. Aku dah ada banyak dosa sangat kat dunia ini dan aku tak fikir semua dosa aku tu akan diampun di hari ini. Bagaimanapun, kalau semua orang nak buat, aku pun join sekali. Memeriahkan lagi suasana di bulan mulia ini. Aku juga teringin nak bagi nak duit kat ahli keluarga aku. Saja nak bagi mereka merasa hasil penat lelah aku kerja kat tempat orang selama ini. Hidup berjauhan dari kampung halaman adalah sesuatu yang sukar untuk aku nak katakan. Semuanya perlu dilakukan sendiri. Aku mengakui yang aku bukan jenis yang rapat dengan siapa-siapa pun. Tapi aku juga mengakui yang aku tak boleh hidup seorang diri di dunia ini. Jadi bagi sesiapa yang mengenali aku terutamanya ahli keluarga dan kawan-kawan aku dari waktu di wad bersalin hospital lumut, rumah di taman serdang, tadika islam masjid sitiawan, tadika kemas masjid sitiawan, padang permainan taman serdang, Surau Taman Serdang, Sekolah Kebangsaan Seri Manjung, Sekolah Menengah Anderson Ipoh, Sekolah Menengah Kebangsaan Methodist Anglo Chinese School (ACS) Sitiawan, Universiti Teknologi Mara, Taufikhari Advertising, Jasos Advertising, Restoran A&W Sunway, COBRA dan terbaru sekali Utusan Melayu (M) Berhad....... Aku ingin mengucapkan Selamat Hari Raya Aidilfitri dan Maaf Zahir Batin.
Wassalamualaikum
Hari Raya menjelma kembali. Semua warga kota yang mempunyai kampung halaman akan kembali pulang berpusu-pusu. Bagi warga kota yang mana bandaraya itu merupakan kampung mereka, ketenangan yang bakal dialami akan dinikmati sepenuhnya. Aku masih ada beberapa hari lagi sebelum aku kembali pulang ke kampung aku. Rasanya, semakin dewasa, semakin kurang rasanya kemeriahan Aidilfitri ini. Kemungkinan Hari Raya adalah perayaan untuk kanak-kanak. Mereka adalah golongan yang bergembira sekali di waktu itu. Dapat duit raya, lepas tu dapat 'pau' orang yang tidak dikenali untuk duit raya. Seterusnya jalan sekeliling kampung untuk pau lagi orang. Muka memang tebal gila tapi mungkin ini yang diperlukan bila mereka menjadi sales officer atau eksekutif pemasaran di masa hadapan. Pada perayaan ini juga, sanak saudara akan bertemu. Bila rumah tu dah penuh, meriah pula rasanya, nama pun budak-budak, dengan siapa-siapa pun berkawan, bukannya macam orang dewasa, dah ada terlalu banyak benda untuk difikirkan. Aku ada banyak juga kenangan di waktu raya, tapi benda yang paling aku rindu ialah menonton sarkis kat tv di pagi raya. Zaman sekarang mana ada lagi dah semua tu. Kalau buka jerr mesti ada rancangan artis-artis tengah nyanyi lagu-lagu raya, drama swasta dan filem-filem tempatan yang baru keluar wayang bulan lepas. Bagi kaum ibu, mereka akan tidak putus-putus memasak, nak bagi anak-anak mereka sihat gamaknya. Budak-budak bujang akan melepak ngan kawan-kawan mereka yang dah lama tak jumpa. Banyak perkara untuk disembangkan sebab dah terlalu lama tidak berjumpa. Aku rasa itu kot apa aku akan buat di hari raya ini. Cuba cari balik kawan-kawan. Saja nak sembang dengan semua balik.
Aku tak faham sangat konsep minta maaf di waktu hari raya ini. Aku dah ada banyak dosa sangat kat dunia ini dan aku tak fikir semua dosa aku tu akan diampun di hari ini. Bagaimanapun, kalau semua orang nak buat, aku pun join sekali. Memeriahkan lagi suasana di bulan mulia ini. Aku juga teringin nak bagi nak duit kat ahli keluarga aku. Saja nak bagi mereka merasa hasil penat lelah aku kerja kat tempat orang selama ini. Hidup berjauhan dari kampung halaman adalah sesuatu yang sukar untuk aku nak katakan. Semuanya perlu dilakukan sendiri. Aku mengakui yang aku bukan jenis yang rapat dengan siapa-siapa pun. Tapi aku juga mengakui yang aku tak boleh hidup seorang diri di dunia ini. Jadi bagi sesiapa yang mengenali aku terutamanya ahli keluarga dan kawan-kawan aku dari waktu di wad bersalin hospital lumut, rumah di taman serdang, tadika islam masjid sitiawan, tadika kemas masjid sitiawan, padang permainan taman serdang, Surau Taman Serdang, Sekolah Kebangsaan Seri Manjung, Sekolah Menengah Anderson Ipoh, Sekolah Menengah Kebangsaan Methodist Anglo Chinese School (ACS) Sitiawan, Universiti Teknologi Mara, Taufikhari Advertising, Jasos Advertising, Restoran A&W Sunway, COBRA dan terbaru sekali Utusan Melayu (M) Berhad....... Aku ingin mengucapkan Selamat Hari Raya Aidilfitri dan Maaf Zahir Batin.
Wassalamualaikum
Tuesday, September 05, 2006
bunga api

Sepanjang aku hidup dalam muka bumi ini, aku tak pernah lagi melihat bunga api (yang besar punya, bukan yang stok main masa raya tu) meletup betul-betul di atas kepala aku. Jadi bila benda ini berlaku semasa aku 'cover' sambutan merdeka di danga bay 31 ogos lalu, aku begitu terpegun dan terasa takjub. Seolah-olah aku ini seorang budak yang seronok mendapat mainan. Agaknya, begitulah yang aku dapat gambarkan.
Yang kelakarnya, aku dan bob (photographer) tiba di tempat itu memang betul-betul tepat pada masanya. Kitaorang sampai lagi dua minit sebelum diaorang laung 'merdeka'. Yelarrr, masa tu 'jam'nya amat dasyhat. Dengan kereta, motosikal serta budak2 basikal(mak bapak diaorang tahu ke anak diaorang keluar ni) yang berpusu-pusu, perjalanan yang sepatutnya berminit, dah jadi berjam. Nak dijadikan cerita, aku dengan bob yang naik kereta aku rasa bosan dengan semua stesyen radio masa tu. Jadi bila kitaorang terbuka sebuah stesyen radio tamil, kitaorang pun layan jelarrr. Terasa macam integrasi nasional pulak.
Tempat parking bukannya mudah nak dapat. Hendak tak hendak, akhirnya kitaorang parking dekat satu tempat yang agak jauh juga dari tapak sambutan. Jauhnya macam mana ya nak cerita, rasanya tak keterlaluan kalau aku cakap dekat tiga batang rokok boleh habis. Bila dah sampai tu, aku dengan bob pun pakat berlari lar. Masa dah tak banyak tinggal. Dalam gelap tanpa sebarang lampu, kitaorang meredah semua lecah dan lumpur yang ada (tapak parking tu masih belum ditar lagi). Sambil berlari tu, kitaorang menangkap semua bunyi yang ada macam ''ya, lagi lima minit lagi kita akan sambut...'' serta ''perdana menteri telah pun bersiap sedia untuk...''. Bila dah dengar macam tu, tidak ker kelam kabut jadinya.
Namun begitu, aku dengan bob berlari sambil gelak. Kebimbangan aku cuma satu, andai kata kitaorang lambat, bob takkan dapat gambarnya. Mana boleh biar benda tu berlaku. Selain berita, suratkhabar dijual kerana gambarnya. Setelah habis berlumpur kasut dan seluar, aku dan bob akhirnya sampai di tapak sambutan dalam keadaan tercungap-cungap. Memang kelakar rasanya, kali terakhir aku buat benda 'last minute' macam ini waktu aku student dulu.
Bob, bila dah sampai, terus buat kerja menangkap gambar orang-orang JB melaungkan 'Merdeka' berkali-kali. Malam tu, nak kata tak banyak orang tak boleh gak, banyak orangnya. Aku biarkan sahaja Bob membuat kerjanya sambil aku memikirkan pula apa yang patut aku buat. (Aku patut berterus-terang dalam hal ini, aku tak fikir apa pun, aku lepak jer) Mata aku meliar tengok gelagat orang ramai, nyanyian lagu-lagu patriotik serta letupan bunga api di bahagian Stulang (sebab jauh, tak nampak apa sangat).
Tengah aku layan benda-benda yang boleh dimasukkan dalam konteks sosiologi tu, aku dikejutkan dengan dentuman dan cahaya bunga api yang dilancarkan di Danga Bay. Oleh kerana kedudukan Danga Bay yang berhampiran dengan laut, bunga api itu dilancarkan rendah dengan letupan itu berlaku di atas permukaan laut. Bagi orang-orang yang berada di Danga Bay ketika (termasuk aku), kitaorang bagai terpegun dengan cahayanya yang begitu terang. Satu demi satu keluar dan kami semua menyaksikan pelbagai corak berbeza. Ada yang keluar satu meletup besar. Ada juga keluar yang kecik banyak-banyak sekali. Warna-warna yang keluar pun pelbagai. Oleh kerana kedudukan letupan itu dekat, fikir aku kurang dari 500 meter, cahaya-cahaya yang keluar dari bunga api itu bagai melimpah atas kepala. Memang seronok. Aku betul-betul seronok.
Dalam tengah sibuk menonton pertunjukan bunga api itu, Bob ternampak satu shot yang amat menarik, seorang bapa bersama enam orang anak kecilnya sedang berada di atas sebuah tong besar sambil mengibarkan bendera 'jalur gemilang'. Kitaorang pun pegi ke pakcik tu dan minta dia posing. Aku bagai melihat tugu negara pulak dengan aksi pakcik itu (cuma aku tak nampak perajurit berguguran larrr, yang kibar bendera tu ada) Mereka memang sporting. Daripada temuramah ringkas yang aku jalankan, pakcik tu memang tiap-tiap tahun bawa anaknya sambut merdeka. Dia beritahu, masa dulu, bapa dia akan selalu bawa di sambut, sekarang giliran dia bawak anak-anak dia. Bangga betul aku dengan masyarakat Malaysia kita ini (ikhlas, aku ini patriotik juga) Bob menangkap pelbagai gambar yang menarik dan aku boleh katakan, gambar tu adalah antara hasil kerjanya yang terbaik kerana keluarga pakcik itu membelakangkan letupan bunga api yang bergemerlapan.
Setelah selesai pertunjukan api, Bob pun menumpukan kerjanya kepada tugas yang sepatutnya aku lakukan, interview orang ramai dan tanya mereka pasal merdeka. Macam-macam jawapan aku dapat tapi bunyinya sama sahaja. Janji aku dah buat kerja aku. Seterusnya, aku dan Bob bercadang untuk lepak lebih lama di Danga Bay untuk mengintai sama ada berlaku atau tidak maksiat di kalangan remaja di hari yang mulia ini. Malangnya, rancangan itu terpaksa dibatalkan kerana KL sudah panggil suruh hantar gambar.
Sebagaimana kitaorang berkejar untuk tiba di tapak sambutan, sebegitulah samanya kita orang hendak balik ke kereta. Bezanya kali ini kitaorang tak berlari, kitaorang 'berlumba jalan kaki (ala.. macam dalam sukan olimpik dan sukan sea tu) Berdekah-dekah aku dan bob ketawa sepanjang perjalanan itu. Bila dah sampai ke kereta, aku terus pecut balik ofis setelah berjaya mengelak dari satu jam yang begitu teruk menuju ke arah Tampoi. Bob menjadi serius setibanya di ofis, almaklum KL telefon berkali-kali, kalau aku pun tension juga jadinya. Aku lepak jer sebab aku akan buat 'story' keesokan harinya.
Aku tengok diri aku. Seluar dan kasut aku habis berlumpur. Aku tersenyum. Dibandingkan kotoran dengan keseronokan yang aku alami, aku akan tetap memilih untuk melakukan perkara yang sama. Bunga api, majlis patriotik, keluarga yang suka outing serta gelagat anak muda, kesemuanya membuka mata aku untuk melihat apa yang dikatakan sebagai sambutan bagi kemerdekaan negara. Kita sememangnya perlu menyambutnya bagi mengingatkan kita kepada perkara-perkara yang kita mungkin terlupa. Dalam cerita aku, sambutan kemerdekaan ini membuka aku kepada keseronokan pada waktu kecil. Perasaan bahagia yang aku hampir-hampir lupa rasanya.
Sunday, March 19, 2006
Birokrasi Kita
Birokrasi. Bukankah itu yang menghancurkan apa yang kita pernah ada? Bila semua orang hanya memikirkan kepentingan sendiri. Tamak dan Haloba tersengih-sengih dalam jiwa. Tidak pernahkah terlintas kepada mereka, apa yang sepatutnya diwariskan kepada keturunan seterusnya?
Dunia kini begitu malap. Jaguhan-jaguhan dahulu sudah letih lagi lesu. Suatu masa ketika, mereka mungkin dapat menggagahkan segala keringat. Dengan datangnya suatu kebangkitan, mereka membawa semua semangat untuk membinanya. Cuma apa yang para jaguhan ini tidak nampak ialah yang sebenarnya segerombolan insan munafik turut sama menyertainya.
Dengan waktu yang perlahan laju berjalan, tarik-menarik mula berlaku sehingga kesemua yang tinggal ialah mereka yang berpura-pura. Siapa yang tinggal kiranya jika para jagoan sudah dimamah usia? Akhirnya kesemua sekali termasuk kita yang darah masih menyala ini tenggelam dalam kemunafikan diri.
Kini yang tinggal hanya sisa. Semua cuba mencari. Merobek-robek celahan yang kelihatan. Rata-ratanya membuka kompas dan hanya dapat melihat arah barat. Dan kesitu kesemua anak muda kita pergi. Sayang benar, apa yang milik para jaguhan, apa yang patutnya terbina, sudah tiada.
Kita tidak lagi memiliki tiang yang dapat menegakkan semua yang pernah digapai. Dunia kelesuan. Tiada lagi nafas untuknya kerana sesak dengan hiprokasi dan birokrasi. Tiada lagi kejujuran untuk diberitahu kepada masyarakat. Yang tinggal ialah persembahan kosong dengan khalayak yang berpura-pura arif mengenainya. Bodoh semuanya.
Pentas hanya dipenuhi dengan mereka yang dahagakan kuasa dan wang ringgit. Tiada siapa lagi yang mahu berbakti melainkan ia kepada diri sendiri. Akhirnya, aku dan mereka yang sama denganku semua terkapai-kapai. Bagaimana mahu menceritakan semua ini bukan persoalannya. Aku hanya ingin tahu bagaimana hendak memulakannya kembali. Semuanya bukan untuk aku, tapi untuk mereka selepasku.
Dunia kini begitu malap. Jaguhan-jaguhan dahulu sudah letih lagi lesu. Suatu masa ketika, mereka mungkin dapat menggagahkan segala keringat. Dengan datangnya suatu kebangkitan, mereka membawa semua semangat untuk membinanya. Cuma apa yang para jaguhan ini tidak nampak ialah yang sebenarnya segerombolan insan munafik turut sama menyertainya.
Dengan waktu yang perlahan laju berjalan, tarik-menarik mula berlaku sehingga kesemua yang tinggal ialah mereka yang berpura-pura. Siapa yang tinggal kiranya jika para jagoan sudah dimamah usia? Akhirnya kesemua sekali termasuk kita yang darah masih menyala ini tenggelam dalam kemunafikan diri.
Kini yang tinggal hanya sisa. Semua cuba mencari. Merobek-robek celahan yang kelihatan. Rata-ratanya membuka kompas dan hanya dapat melihat arah barat. Dan kesitu kesemua anak muda kita pergi. Sayang benar, apa yang milik para jaguhan, apa yang patutnya terbina, sudah tiada.
Kita tidak lagi memiliki tiang yang dapat menegakkan semua yang pernah digapai. Dunia kelesuan. Tiada lagi nafas untuknya kerana sesak dengan hiprokasi dan birokrasi. Tiada lagi kejujuran untuk diberitahu kepada masyarakat. Yang tinggal ialah persembahan kosong dengan khalayak yang berpura-pura arif mengenainya. Bodoh semuanya.
Pentas hanya dipenuhi dengan mereka yang dahagakan kuasa dan wang ringgit. Tiada siapa lagi yang mahu berbakti melainkan ia kepada diri sendiri. Akhirnya, aku dan mereka yang sama denganku semua terkapai-kapai. Bagaimana mahu menceritakan semua ini bukan persoalannya. Aku hanya ingin tahu bagaimana hendak memulakannya kembali. Semuanya bukan untuk aku, tapi untuk mereka selepasku.
Tuesday, March 14, 2006
balik sendiri
Boleh tak kita bercakap dengan diri sendiri? Maksud aku, setelah saban hari disuapkan dengan pelbagai kata-kata dari pelbagai orang menerusi peti tv, kertas suratkhabar atau manusia di sekitar lingkungan hidup, boleh tak kita berhenti sejenak dan bercakap dengan diri sendiri? Memberitahu balik pada diri mengenai apa yang sebenarnya berlaku. Berhenti untuk merasakan masa meniup ke hadapan muka dengan jasad kita masih tegak di atas muka bumi.
Aku penat sebenarnya. Kerap benar tugas aku mendengar. Memerhatikan apa yang berlaku pada manusia di sekeliling tanpa menyedari masa aku pun tengah berjalan. Memang ia menyeronokkan sekali-sekala dan juga menyakitkan hati sekali-sekala. Sebahagian daripada lumrah yang aku malas nak cakap tapi kita semua tahu. Entah bila hendak semua ini hendak berhenti. (Ya, aku sedar aku macam tengah minta mati)
Bila tengok pada suatu masalah. Susah macam mana pun perkara itu pasti ada penyelesaiannya. Itu apa yang aku cuba beritahu diriku setiap hari. Iaitu setiap kali aku bangun pagi dan terus menyalakan sebatang rokok di bibirku. Jelas benar, kusut itu dah berakar dalam tubuh dan penyelesaian yang aku maksudkan itu tak lebih daripada satu bayangan timbul daripada harapan. Gurun dengan bayangan airnya.
Aku cuba melihat dalam diri orang lain. Dengan membandingkan apa yang baik dan buruk antara mereka dengan aku, pantas sahaja aku buat kesimpulan. Tapi kemudian, bukan apa yang kita lihat itu adalah nyata. Aku berundur balik. Bagaimana keputusannya? Menyala lagi sebatang rokok.
Kelakar juga rasanya di umur 25 tahun ini. Ibubapa aku kini sudah menjadi warga emas. Masa inilah aku perlu menggalas tugas menjaga mereka. Dalam keadaan yang tidak berniat, aku mengamati mereka berdua. Banyak betul rupanya sifat mereka yang turun pada aku. Hendak kata semuanya baik, tidak juga. Ada juga kelemahan mereka mengalir dalam darah aku. Dan dalam semua itu, ada juga yang tidak turun. Tertawa kecil aku. Rupanya dari sini, datangnya sifat aku yang sentiasa cuba bersangka baik. Dan juga sikap bertangguh dan panik bila ada besar berlaku. Di situ juga asalnya. Genetik mungkin sama tapi cap jarinya berbeza.
Aku hendak pulang sebentar lagi. Terima kasih kepada Iwan Fals, Damon Albarn dan Dave Matthew yang menemani taipan ini. Ko mungkin tak kenal aku. Atau pun ko mungkin tak kenal berpuluh ribu manusia yang mendengar lagu korang. Tapi rasanya, mereka semua pun sama macam aku. Berterima kasih kepada Engkorang berdua.
Rasanya dah cukup lama aku bercakap dengan diri sendiri ini. Masa untuk berbalik ke dunia nyata. Dunia yang kalau silap haribulan, aku boleh tersadung kaki ke tanah semasa berjalan. Dunia yang belum tahu untung ruginya melainkan kita tahu meniliknya. Aku tidak tipu, aku boleh meniliknya. Seperti sekarang ini, aku menilik aku akan pulang sebentar lagi. hihihihiihihi
Aku penat sebenarnya. Kerap benar tugas aku mendengar. Memerhatikan apa yang berlaku pada manusia di sekeliling tanpa menyedari masa aku pun tengah berjalan. Memang ia menyeronokkan sekali-sekala dan juga menyakitkan hati sekali-sekala. Sebahagian daripada lumrah yang aku malas nak cakap tapi kita semua tahu. Entah bila hendak semua ini hendak berhenti. (Ya, aku sedar aku macam tengah minta mati)
Bila tengok pada suatu masalah. Susah macam mana pun perkara itu pasti ada penyelesaiannya. Itu apa yang aku cuba beritahu diriku setiap hari. Iaitu setiap kali aku bangun pagi dan terus menyalakan sebatang rokok di bibirku. Jelas benar, kusut itu dah berakar dalam tubuh dan penyelesaian yang aku maksudkan itu tak lebih daripada satu bayangan timbul daripada harapan. Gurun dengan bayangan airnya.
Aku cuba melihat dalam diri orang lain. Dengan membandingkan apa yang baik dan buruk antara mereka dengan aku, pantas sahaja aku buat kesimpulan. Tapi kemudian, bukan apa yang kita lihat itu adalah nyata. Aku berundur balik. Bagaimana keputusannya? Menyala lagi sebatang rokok.
Kelakar juga rasanya di umur 25 tahun ini. Ibubapa aku kini sudah menjadi warga emas. Masa inilah aku perlu menggalas tugas menjaga mereka. Dalam keadaan yang tidak berniat, aku mengamati mereka berdua. Banyak betul rupanya sifat mereka yang turun pada aku. Hendak kata semuanya baik, tidak juga. Ada juga kelemahan mereka mengalir dalam darah aku. Dan dalam semua itu, ada juga yang tidak turun. Tertawa kecil aku. Rupanya dari sini, datangnya sifat aku yang sentiasa cuba bersangka baik. Dan juga sikap bertangguh dan panik bila ada besar berlaku. Di situ juga asalnya. Genetik mungkin sama tapi cap jarinya berbeza.
Aku hendak pulang sebentar lagi. Terima kasih kepada Iwan Fals, Damon Albarn dan Dave Matthew yang menemani taipan ini. Ko mungkin tak kenal aku. Atau pun ko mungkin tak kenal berpuluh ribu manusia yang mendengar lagu korang. Tapi rasanya, mereka semua pun sama macam aku. Berterima kasih kepada Engkorang berdua.
Rasanya dah cukup lama aku bercakap dengan diri sendiri ini. Masa untuk berbalik ke dunia nyata. Dunia yang kalau silap haribulan, aku boleh tersadung kaki ke tanah semasa berjalan. Dunia yang belum tahu untung ruginya melainkan kita tahu meniliknya. Aku tidak tipu, aku boleh meniliknya. Seperti sekarang ini, aku menilik aku akan pulang sebentar lagi. hihihihiihihi
Monday, January 30, 2006
di balik tembok
Aku ada di sebalik tembok ini. Menahan nafasku, menyembunyikan diri. Ketakutan menjalar-jalar dalam tiap liang tubuhku. Jasadku tidak tamat menggeletar di atas apa yang aku sedang lalui. Teka-teki itu kini memerangkapku. Maksud sudah tiada. Kenyataan adalah sia-sia. Aku tidak dapat berganjak. Aku sudah mencampakkan diri aku sendiri. Mataku kini buta untuk melihat apa yang di hadapan. Akhirnya aku sendiri. Terus sendiri. Kerana silam aku akan sentiasa menyelimuti. Mengingatkan aku dosa-dosa aku. dosa dari hatiku. dosa dari lidahku. dosa dari tanganku. dosa dari langkahku. Masa bergerak pantas mengejar dari belakang. terlalu laju ia untuk kuikuti. teka-teki itu masih ada di situ. di sebalik tembok itu aku di situ.
Friday, December 16, 2005
paut
Menyedari, tidak bertindak dan hanya berharap. Kiamat bunyinya. Menunggu maut dalam erti lain, menunggu bom jangka untuk meletup. Hidup aku tidak keruan sejak kebelakangan ini. Diriku hilang bagai ada jembalang yang melangkahkan kakiku. Aku dapat merasakan waktu tidak berjalan. Makna tidak lagi memberi sebarang realiti. Hakikatnya, aku terperangkap dalam ketakutan. Setiap orang punya cerita masing-masing. Tidak ketinggalan aku. Tuhan telah menentukan yang aku dijadikan sebagai manusia yang lembut hatinya. Membentak tidak. Memberontak tidak. Berkeras pun tidak. Yang tinggal hanya rasa tidak puas hati yang tidak dapat diadili. Waktu aku membesar pun bukan indah. Aku pernah merasai apa itu pengkhianatan dalam persahabatan. Justeru itu, aku kerap kali berhati-hati. Tidak membiarkan diri aku terlalu dalam kepada sesiapa. Namun bila memperkatakan alam fana cinta, siapa mungkin dapat mengelaknya. Aku tidak terkecuali. Kini aku di dalamnya. Melarikan diri tidak. Menyembunyi pun tidak. Apa yang aku harus ialah..... menjadi teguh kerana padaku tempat berpautnya. Jalan lurus ingin kutujui
Monday, October 24, 2005
kedai buku
Di sebuah kedai buku. Di situ aku berdiri di hadapannya. Penat lelahku berkejar ke hulu ke hilir. Berjumpa orang di sini di sana. Semuanya menoktahkan aku memiliki sebuah kedai buku akhirnya. Aku bukan lahir menjadi orang kaya. Aku juga bukan orang yang bijaksana. Apa aku ialah seorang yang berusaha tanpa putus asa. Membuka jalan menunggu peluang. Dari situ, aku tetapkan tekad, aku mesti punya kedai buku.
Cerita aku bukan mudah. Aku tak tahu apa pun tentang berniaga. Pengalaman berniaga yang aku ada ialah menjual pen dan cokelat kepada budak mengaji quran masa aku di darjah tiga. Selain itu menjual maggi di kolej yang akhirnya keuntungan itu dihabiskan untuk jamming. Tapi belum pernah lagi aku menguruskan pusingan keuntungan dan bagaimana menanggung kerugian.
Bila bercakap mengenai industri buku. Apa sangat yang aku tahu pada mulanya. Selain masyarakat malaysia malas membaca. Parah juga aku dibuatnya. Tambah lagi di zaman internet ini apa lagi mereka mahu cari. Tapi dalam semua itu aku ada apa yang mereka tidak ada. Aku ada peluang membuka mata mereka agar tidak menoleh ke tempat lain. Buku Bahasa Melayu.
Bila aku bercakap mengenai ini, aku bukan maksud buku dari malaysia sahaja namun buku dari indonesia sebenarnya. Keunikkan kedai buku aku ialah menyelamatkan bahasa dari kepupusan. Satu-satu caranya ialah menimbulkan nilai eksotik pada bahasa. Mengaitkan masa lampau pada masa kini. Memberitahu mereka semua, bahasa adalah apa yang kita ada.
Dunia berputar. Persaingan yang terlalu kuat siapa mampu tahan. Syarikat kedai buku luar negara datang ke sini menjual ilmu mereka. Mereka membuka gedung yang terlalu besar yang tiada tandingan. Mereka menawarkan pelbagai pilihan. Kenyataan perlu dihadapi, ilmu yang ingin dibekalkan ada di tangan mereka. Bagi kedai buku konvensional pula banyak juga diceburi oleh kaum india dan kaum cina. Mereka bukan pemain besar namun mereka boleh hidup berdasarkan buku rujukan sekolah yang dijual mereka. Kalau hendak cari kedai buku orang melayu, sudah tentu buku cinta dan buku agama menjadi pilihan mereka.
Di waktu itu juga aku mencelah. Aku ada apa yang mereka tidak ada, iaitu kekayaan bahasa bangsa. Pada masa itu, aku pernah mengharapkan Dewan Bahasa & Pustaka (DBP) menggalas tanggungjawab itu. Tapi mereka tidak. Mereka terlalu 'kerajaan', dengan kata lainnya, pemalas untuk tugas itu. Dari situ aku telah muncul memberikan nafas baru kepada nasionalisma.
Ide sudah ada. Tapi bagaimana ia semua terjadi. Sudah tentu ia tidak dapat wujud tanpa jaringan yang aku peroleh sewaktu menjadi wartawan di Utusan Malaysia. Dengan latar belakang itu, aku menghampiri segenap kedai buku dan membongkar cerita mereka. Aku kaji dari internet tentang kewujudan gedung buku antarabangsa. Dengan mendekati para penerbit, aku juga dapat mencipta persahabatan. Aku juga selosori kembali apa itu perniagaan bermula dari bagaimana aku dapat membuat keuntungan. Setelah aku mengutip semuanya. Di kedai buku aku sergamkan semuanya.
Tapi apa yang aku paling girang sekali dalam pengembaraan itu ialah apabila aku bersama teman wanitaku menjelajah ke indonesia untuk mencari kembali buku-buku yang kian hilang. Keseronokan itu terjawab dengan kedua akar sama yang telah berpecah, kembali berpadu semula. Seolah-olah aku menjelajah ke dunia baru. Tapi kalau hendak diikutkan itu semua adalah warisan nenek moyang aku jua.
Aku mengajak masyarakat semua untuk membuka mata bersama-samaku. Dalam bahasa kita menjumpai diri kita. Nilai tutur dan ilmu semua itu bercantum menganjak ke satu tahap yang di luar jangkaan mana-mana bangsa. Aku tidak putus asa. Mengajak semua orang membuka mata. Untuk menyedarkan mereka apa yang kita ada pada.
Sejak dari itu kedai aku menjadi tumpuan. Mereka yang muda dan dahagakan erti kehidupan sering menjadikan kedai aku sebagai sumber rujukan. Aku membantu menyalur apa yang mereka dahagakan. Mereka yang tua turut juga datang singgah, teringin menjenguk kembali warisan yang tidak putus mengalir dalam darah keturunan. Adik-adik melihat abang dan kakak bersemangat. Mereka juga turut bersemangat. Apa yang semua orang sangkakan sudah mati, sebenarnya bangkit hidup kembali. Bahasa menjadi lambang bangsa.
Namun dalam semua itu, aku bukannya tertutup. Aku rasional. Aku membuka peluang kepada mereka yang inginkan pembaharuan. Aku melayan dengan baik siapa yang dahagakan ruang untuk meluahkan suara. Mereka-mereka yang ingin didengar perlu mempunyai tempat untuk berhimpun. Di situ aku muncul mengalu-alukan mereka.
Daripada suatu harapan, lahirnya satu kenyataan. Tanpa jalan yang dibuka oleh Allah S.W.T. tak mungkin aku berada sini. Tanpa dorongan dari kekasih yang kucintai, tak mungkin aku dapat merempuh semua halangan mendatang. Pada ibubapaku dan keluarga aku yang tidak pernah berhenti memberi sokongan. Syukur kepada Allah S.W.T atas semua kebesaran yang dilimpahkan. Aku pada mulanya tidak punya apa-apa. Bukannya kaya. Bukannya bijaksana. Hanya seorang yang berusaha tanpa putus asa.
Cerita aku bukan mudah. Aku tak tahu apa pun tentang berniaga. Pengalaman berniaga yang aku ada ialah menjual pen dan cokelat kepada budak mengaji quran masa aku di darjah tiga. Selain itu menjual maggi di kolej yang akhirnya keuntungan itu dihabiskan untuk jamming. Tapi belum pernah lagi aku menguruskan pusingan keuntungan dan bagaimana menanggung kerugian.
Bila bercakap mengenai industri buku. Apa sangat yang aku tahu pada mulanya. Selain masyarakat malaysia malas membaca. Parah juga aku dibuatnya. Tambah lagi di zaman internet ini apa lagi mereka mahu cari. Tapi dalam semua itu aku ada apa yang mereka tidak ada. Aku ada peluang membuka mata mereka agar tidak menoleh ke tempat lain. Buku Bahasa Melayu.
Bila aku bercakap mengenai ini, aku bukan maksud buku dari malaysia sahaja namun buku dari indonesia sebenarnya. Keunikkan kedai buku aku ialah menyelamatkan bahasa dari kepupusan. Satu-satu caranya ialah menimbulkan nilai eksotik pada bahasa. Mengaitkan masa lampau pada masa kini. Memberitahu mereka semua, bahasa adalah apa yang kita ada.
Dunia berputar. Persaingan yang terlalu kuat siapa mampu tahan. Syarikat kedai buku luar negara datang ke sini menjual ilmu mereka. Mereka membuka gedung yang terlalu besar yang tiada tandingan. Mereka menawarkan pelbagai pilihan. Kenyataan perlu dihadapi, ilmu yang ingin dibekalkan ada di tangan mereka. Bagi kedai buku konvensional pula banyak juga diceburi oleh kaum india dan kaum cina. Mereka bukan pemain besar namun mereka boleh hidup berdasarkan buku rujukan sekolah yang dijual mereka. Kalau hendak cari kedai buku orang melayu, sudah tentu buku cinta dan buku agama menjadi pilihan mereka.
Di waktu itu juga aku mencelah. Aku ada apa yang mereka tidak ada, iaitu kekayaan bahasa bangsa. Pada masa itu, aku pernah mengharapkan Dewan Bahasa & Pustaka (DBP) menggalas tanggungjawab itu. Tapi mereka tidak. Mereka terlalu 'kerajaan', dengan kata lainnya, pemalas untuk tugas itu. Dari situ aku telah muncul memberikan nafas baru kepada nasionalisma.
Ide sudah ada. Tapi bagaimana ia semua terjadi. Sudah tentu ia tidak dapat wujud tanpa jaringan yang aku peroleh sewaktu menjadi wartawan di Utusan Malaysia. Dengan latar belakang itu, aku menghampiri segenap kedai buku dan membongkar cerita mereka. Aku kaji dari internet tentang kewujudan gedung buku antarabangsa. Dengan mendekati para penerbit, aku juga dapat mencipta persahabatan. Aku juga selosori kembali apa itu perniagaan bermula dari bagaimana aku dapat membuat keuntungan. Setelah aku mengutip semuanya. Di kedai buku aku sergamkan semuanya.
Tapi apa yang aku paling girang sekali dalam pengembaraan itu ialah apabila aku bersama teman wanitaku menjelajah ke indonesia untuk mencari kembali buku-buku yang kian hilang. Keseronokan itu terjawab dengan kedua akar sama yang telah berpecah, kembali berpadu semula. Seolah-olah aku menjelajah ke dunia baru. Tapi kalau hendak diikutkan itu semua adalah warisan nenek moyang aku jua.
Aku mengajak masyarakat semua untuk membuka mata bersama-samaku. Dalam bahasa kita menjumpai diri kita. Nilai tutur dan ilmu semua itu bercantum menganjak ke satu tahap yang di luar jangkaan mana-mana bangsa. Aku tidak putus asa. Mengajak semua orang membuka mata. Untuk menyedarkan mereka apa yang kita ada pada.
Sejak dari itu kedai aku menjadi tumpuan. Mereka yang muda dan dahagakan erti kehidupan sering menjadikan kedai aku sebagai sumber rujukan. Aku membantu menyalur apa yang mereka dahagakan. Mereka yang tua turut juga datang singgah, teringin menjenguk kembali warisan yang tidak putus mengalir dalam darah keturunan. Adik-adik melihat abang dan kakak bersemangat. Mereka juga turut bersemangat. Apa yang semua orang sangkakan sudah mati, sebenarnya bangkit hidup kembali. Bahasa menjadi lambang bangsa.
Namun dalam semua itu, aku bukannya tertutup. Aku rasional. Aku membuka peluang kepada mereka yang inginkan pembaharuan. Aku melayan dengan baik siapa yang dahagakan ruang untuk meluahkan suara. Mereka-mereka yang ingin didengar perlu mempunyai tempat untuk berhimpun. Di situ aku muncul mengalu-alukan mereka.
Daripada suatu harapan, lahirnya satu kenyataan. Tanpa jalan yang dibuka oleh Allah S.W.T. tak mungkin aku berada sini. Tanpa dorongan dari kekasih yang kucintai, tak mungkin aku dapat merempuh semua halangan mendatang. Pada ibubapaku dan keluarga aku yang tidak pernah berhenti memberi sokongan. Syukur kepada Allah S.W.T atas semua kebesaran yang dilimpahkan. Aku pada mulanya tidak punya apa-apa. Bukannya kaya. Bukannya bijaksana. Hanya seorang yang berusaha tanpa putus asa.
Tuesday, August 30, 2005
puisi....oh puisi
Puisi sepatutnya menjadi ruang untuk ekspresi diri. Kata-kata yang disusun menjadi warna yang mewakili kemanusiaan. Aku pegi malam Puisi Merdeka PDRM tadi. Semuanya stereotaip. Beza hanya pada vokal. Tema yang dibawa tidak mampu dilontarkan dalam perspektif yang berbeza. Lantas menambahkan kebosanan. Manusia mengharapkan kelainan dan kejutan bagi menciptakan keriangan atau keinsafan. Sayangnya, mereka yang tipikal ini akan sentiasa wujud dalam kotak mereka sendiri.
Saturday, July 30, 2005
tidak perlu rasa susah
Berkali kita jatuh,
Berdiri jangan mengeluh.
Berkali kita gagal,
Ulangi lagi dan cari akal"
---------------------------------
"Fear less, hope more;
Whine less, breathe more;
Talk less, say more;
Hate less, love more;
And all good things are yours."
(Swedish Proverb)
---------------------------------
"Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu? dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu, yang memberatkan punggungmu? Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu [1586], Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap" (Surah Alam Nasyrah)
-dipetik daripada www.geocities.com/munawir501
Berdiri jangan mengeluh.
Berkali kita gagal,
Ulangi lagi dan cari akal"
---------------------------------
"Fear less, hope more;
Whine less, breathe more;
Talk less, say more;
Hate less, love more;
And all good things are yours."
(Swedish Proverb)
---------------------------------
"Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu? dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu, yang memberatkan punggungmu? Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu [1586], Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap" (Surah Alam Nasyrah)
-dipetik daripada www.geocities.com/munawir501
Wednesday, July 27, 2005
the world is flat?
Before people know what the word science meant, we thought the world is flat. Up until now, if we don't teaches kid at school, they might also think the world is flat. Logic is Logic. It's the true thing that we believe and we can hold on. But in this world, where human shape their logic according to their want, can there still be logic? or we just assume thing until we dead? kind hard huh?
Saturday, July 09, 2005
Puisi panjang penulis dan pemberita
Seorang penulis ketemu seorang pemberita
hidup si gadis menanti bahagia
rutin si lelaki tak tentu hala
Dua-dua dewasa dalam usia berbeza
kepingin bahagia menjalankan hari mendatang
harapan mereka simpan
untuk esok yang lebih baik
memihak mereka akhirnya
Si penulis sering menjeling manja
namun si pemberita bagai tidak sedar
bukan dia sengaja buat-buat tidak sedar
dia memang tidak sedar
lantas si penulis merajuk membawa hati
katanya, dia tidak percaya lagi
jelasnya, si pemberita itu bukan kasih yang dulu lagi
tambahnya, dia tidak mahu ketemu si pemberita itu lagi
....terdiam pemberita
bertanya pada dirinya
apakah salah dirinya
tapi dia tidak patut bertanyakan itu pada dirinya
dulu dia sebenarnya pernah buat salah
'namun aku bukan dulu" "aku berubah" kata hatinya
(maksud aku, jerit hatinya)
buntu buntu buntu
marah marah marah
buntu marah buntu marah buntu marah
putaran demi putaran demi putaran mereka berpinar
dan akhirnya............................................putaran itu berhenti, akhirnya
Tika itu, mata saling bertemu mata,
hati yang terkunci mula terbuka
meluahkan kata-kata
susunan cinta bertingkat sayang
kata-kata haruman persis menyamankan
terlihat saat itu,
Cinta itu ketemu
rapat dalam mereka menjadi satu
Mereka saling sayang menyayang rupanya
Si penulis faham si pemberita
Si pemberita faham si penulis
kini harapannya,
hidup mengizinkan
mereka terus bahagia!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
hidup si gadis menanti bahagia
rutin si lelaki tak tentu hala
Dua-dua dewasa dalam usia berbeza
kepingin bahagia menjalankan hari mendatang
harapan mereka simpan
untuk esok yang lebih baik
memihak mereka akhirnya
Si penulis sering menjeling manja
namun si pemberita bagai tidak sedar
bukan dia sengaja buat-buat tidak sedar
dia memang tidak sedar
lantas si penulis merajuk membawa hati
katanya, dia tidak percaya lagi
jelasnya, si pemberita itu bukan kasih yang dulu lagi
tambahnya, dia tidak mahu ketemu si pemberita itu lagi
....terdiam pemberita
bertanya pada dirinya
apakah salah dirinya
tapi dia tidak patut bertanyakan itu pada dirinya
dulu dia sebenarnya pernah buat salah
'namun aku bukan dulu" "aku berubah" kata hatinya
(maksud aku, jerit hatinya)
buntu buntu buntu
marah marah marah
buntu marah buntu marah buntu marah
putaran demi putaran demi putaran mereka berpinar
dan akhirnya............................................putaran itu berhenti, akhirnya
Tika itu, mata saling bertemu mata,
hati yang terkunci mula terbuka
meluahkan kata-kata
susunan cinta bertingkat sayang
kata-kata haruman persis menyamankan
terlihat saat itu,
Cinta itu ketemu
rapat dalam mereka menjadi satu
Mereka saling sayang menyayang rupanya
Si penulis faham si pemberita
Si pemberita faham si penulis
kini harapannya,
hidup mengizinkan
mereka terus bahagia!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Puisi panjang penulis dan pemberita
Seorang penulis ketemu seorang pemberita
hidup si gadis menanti bahagia
rutin si lelaki tak tentu hala
Dua-dua dewasa dalam usia berbeza
kepingin bahagia menjalankan hari mendatang
harapan mereka simpan
untuk esok yang lebih baik
memihak mereka akhirnya
Si penulis sering menjeling manja
namun si pemberita bagai tidak sedar
bukan dia sengaja buat-buat tidak sedar
dia memang tidak sedar
lantas si penulis merajuk membawa hati
katanya, dia tidak percaya lagi
jelasnya, si pemberita itu bukan kasih yang dulu lagi
tambahnya, dia tidak mahu ketemu si pemberita itu lagi
....terdiam pemberita
bertanya pada dirinya
apakah salah dirinya
tapi dia tidak patut bertanyakan itu pada dirinya
dulu dia sebenarnya pernah buat salah
'namun aku bukan dulu" "aku berubah" kata hatinya
(maksud aku, jerit hatinya)
buntu buntu buntu
marah marah marah
buntu marah buntu marah buntu marah
putaran demi putaran demi putaran mereka berpinar
dan akhirnya............................................putaran itu berhenti, akhirnya
Tika itu, mata saling bertemu mata,
hati yang terkunci mula terbuka
meluahkan kata-kata
susunan cinta bertingkat sayang
kata-kata haruman persis menyamankan
terlihat saat itu,
Cinta itu ketemu
rapat dalam mereka menjadi satu
Mereka saling sayang menyayang rupanya
Si penulis faham si pemberita
Si pemberita faham si penulis
kini harapannya,
hidup mengizinkan
mereka terus bahagia!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!11
hidup si gadis menanti bahagia
rutin si lelaki tak tentu hala
Dua-dua dewasa dalam usia berbeza
kepingin bahagia menjalankan hari mendatang
harapan mereka simpan
untuk esok yang lebih baik
memihak mereka akhirnya
Si penulis sering menjeling manja
namun si pemberita bagai tidak sedar
bukan dia sengaja buat-buat tidak sedar
dia memang tidak sedar
lantas si penulis merajuk membawa hati
katanya, dia tidak percaya lagi
jelasnya, si pemberita itu bukan kasih yang dulu lagi
tambahnya, dia tidak mahu ketemu si pemberita itu lagi
....terdiam pemberita
bertanya pada dirinya
apakah salah dirinya
tapi dia tidak patut bertanyakan itu pada dirinya
dulu dia sebenarnya pernah buat salah
'namun aku bukan dulu" "aku berubah" kata hatinya
(maksud aku, jerit hatinya)
buntu buntu buntu
marah marah marah
buntu marah buntu marah buntu marah
putaran demi putaran demi putaran mereka berpinar
dan akhirnya............................................putaran itu berhenti, akhirnya
Tika itu, mata saling bertemu mata,
hati yang terkunci mula terbuka
meluahkan kata-kata
susunan cinta bertingkat sayang
kata-kata haruman persis menyamankan
terlihat saat itu,
Cinta itu ketemu
rapat dalam mereka menjadi satu
Mereka saling sayang menyayang rupanya
Si penulis faham si pemberita
Si pemberita faham si penulis
kini harapannya,
hidup mengizinkan
mereka terus bahagia!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!11
Subscribe to:
Posts (Atom)
